MAKALAH
JALAN MENUJU
PENGETAHUAN TENTANG ALLAH : AL – QUR’AN
Disusun Untuk Memenuhi
Tugas Mata Kuliah: Tauhid
Tugas Mata Kuliah: Tauhid
Dosen Pengampu: Dr. Ustadi Hamsah, S.Ag., M.Ag.
Disusun Oleh:
Ahmad Albar Fuad (16670018)
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS ILMU SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2016
FAKULTAS ILMU SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2016
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum wr.wb
Puji serta syukur marilah panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan berkah, nikmat dan rahmat serta karunia-Nya kepada kita semua.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda besar kita Nabi
Muhammad SAW yang telah menunjukan kepada kita jalan yang lurus, sehingga kita
dapat membedakan mana yang haram dan mana yang di halalkan oleh Allah SWT.
Alhamdulillah,
berkat rahmat dan karunia Allah SWT, sehingga makalah ini dapat kami selesaikan
dengan judul “Jalan Menuju Pengetahuan
Tentang Allah : Al-Qur’an”. Maka dalam kesempatan ini kami menghaturkan
terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:
1. Prof. Drs. H. Akhmad
Minhaji, MA,. Ph.D. selaku Rektor UIN Sunan
Kalijaga.
2. Dr. Murtono, M.Si,
selaku Dekan Fakultas Ilmu Sains dan Teknologi.
3. Bapak Karmanto,
S.Si., M.Sc.selaku Kaprodi Pendidikan kimia.
4. Dr. Ustadi Hamsah, S.Ag., M.Ag. selaku dosen mata
kuliah Tauhid.
Tak lupa kami ucapkan mohon maaf karena kami pun menyadari bahwa
makalah ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi
kesempurnaan pembuatan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi
para pembaca pada umumnya. Aaamiin.
Wassalamualaikum wr.wb
Yogyakarta, 15
Oktober 2016
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................
ii
DAFTAR ISI.....................................................................................................
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang...................................................................................
1
B.
Rumusan Masalah..............................................................................
1
C.
Tujuan Penulisan................................................................................
1
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Tauhid..............................................................................
2
B.
Tuhan itu Ada dan Hidup..................................................................
3
C.
Allah Kita Maha
Ghaib......................................................................
6
D.
Tauhid Kepada Allah.........................................................................
7
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan..........................................................................................
13
B.
Kritik dan Saran.................................................................................
13
Daftar Pustaka..................................................................................................
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Manusia berdasarkan fitrah dan akal sehat pasti
mengakui bahwa Allah itu esa, tidak bersekutu istilah ini yang disebut tauhid.
Tauhid adalah kunci dari makna hidup, bahkan manusia dan jin diciptakan hanya
untuk bertauhid kepada Allah semata.
Ilmu tauhid adalah ilmu yang paling penting bagi
tiap-tiap muslim karena bahasan ilmu tauhid ini menyangkut akidah islam.
Sedangkan akidah islam merupakan pondasi bagi keberagaman seseorang dan benteng
yang kokoh untuk memelihara akidah muslim dari setiap ancaman keraguan dan
kesesatan. Tanpa mengetahui ilmu tauhid kita tidak akan mengetahui tujuan hidup
yang sebenarnya.
Dalam al-qur’an pun juga sangat banyak ayat yang
membahas ketauhidan. Makalah ini akan menguraikan beberapa poin tauhid yang
berhubungan dengan al-qur’an, seperti pengertian tauhid, wujud Allah, Allah itu
ghaib, dan pembagian Tauhidullah.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa pengertian Tauhid ?
2.
Apakah Tuhan ada dan Hidup ?
3.
Apakah Tuhan Maha Ghaib ?
4.
Pembagian Tauhid ?
C.
TUJUAN PENULISAN
1.
Memahami pengertian Tauhidullah.
2.
Memahami apakah Tuhan itu dzat yang ada dan hidup
3.
Memahami apakah tuhan maha ghaib
4.
Mengetahui pembagian tauhid
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Tauhid
Pengertian Tauhid dalam
bahasa arab merupakan mashdar (kata suatu benda dari sebuah kata kerja) berasal
dari kata wahhada. Apabila yang dimaksud wahhada syai’a berarti menjadikan
sesuatu itu menjadi satu. Sedangkan menurut ilmu syariat mempunyai arti
mengesakan terhadap Allah dalam sesuatu hal yang merupakan kekhususan bagi-Nya,
yaitu yang berupa Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma’ Wa Shifat ( Al-Qaulul Mufiiid
Syarh Kitabi At-Tauhid).
Kata tauhid itu sendiri merupakan sebuah kata yang terdapat di dalam
beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana di dalam hadits
Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, “Kamu akan datangi suatu kaum ahli kitab,
maka jadikanlah materi dalam dakwah yang akan kamu sampaikan pertama kali yaitu
agar mereka mentauhidkan terhadap Allah”.
Begitu pula dalam perkataan para sahabat Nabi, “Rasulullah membaca tahlil
dengan tauhid”. Dalam pengucapan beliau labbaika Allahumma labbaika, labbaika
laa syariika laka labbaika, ucapan talbiyah yang dilantunkan saat memulai
ibadah haji. Dengan demikian kata-kata tauhid adalah kata syar’i dan juga
terdapat di dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Syarh Al-‘Aqidah
Ath-Thahawiyah li Syaikh Shalih Alu Syaikh).
Tauhid
secara bahasa artinya keesaan, mengesakan Tuhan. Mengesakan Tuhan
berarti meyakini bahwa Tuhan itu Maha esa. Tuhan Maha Esa itu ialah Allah SWT.
Dan ilmu tauhid itu ialah suatu ilmu yang mempelajari atau membahas tentang
segala sesuatu kepercayaan atau keimanan yang diambil dari dalil-dalil
keyakinan dan hukum dalam Islam termasuk hukum tentang mempercayakan bahwa
Allah itu esa. Adapun tujuan mempelajari ilmu tauhid ialah untuk
mengenal Allah lebih dekat dan RasulNya dengan dalil-dalil yang pasti
kebenarannya.
B.
Tuhan itu Ada dan Hidup
1.
TUHAN HIDUP
Allah memiliki
nama dan sifat yang sempurna. Allah itu Al Hayyu ( Maha Hidup), kekal abadi
sehingga jika seseorang bertawakkal kepadaNya maka dia bertawakkal kepada Dzat
yang maha Sempurna. Hidup Allah adalah hidup yang sempurna, yang berakhi tidak
dengan mati, hidup yang bukan dengan alat seperti jantung, paru-paru, bukan
karena khasiat makanan, juga hidup bukan karena sinar dan cahaya. [1] Firman Allah :
لَا تَجْـَٔرُوا۟
ٱلْيَوْمَ ۖ إِنَّكُم مِّنَّا لَا تُنصَرُونَ
“ Dia (Allah) hidup, tidak ada Tuhan selain Dia, maka hadapkanlah
segala Do'a kepada-Nya dan beribadatlah semata-mata untuk dan karena Dia.” (QS.
Al Mukmin:65)
وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ
“Sesungguhnya Dia Allah-lah yang mematikan dan Dialah yang
menghidupkan.” (QS. An- Najm:44)
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ
أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ
“Dia Allah-lah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji
kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi
Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk:2)
Dari beberapa
ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah itu hidup dan Ada, karena setiap yang
hidup pasti ada. Hidupnya Allah tentu berbeda dengan hidup makhluk-Nya, karena
Allah yang menciptakan. Allah-lah Dzat yang memberi hidup dan menghidupkan, sedangkan adanya makhluk
yang hidup karena dihidupkan.
Ada 3 macam hidup atau kehidupan di alam semesta, yaitu :
a.
Hidup
tumbuh (Anima Vegetativa), atau hayat nabati
Adalah semacam hidup di kalangan tumbuh-tumbuhan. Hidup yang
sanggup tumbuh, makin tinggi, dan makin besar. Hidup yang menghasilkan daun,
buah, tetapi tidak sanggup merasakan dan bergerak.
b.
Hidup
rasa (Anima Sensitiva), atau hayat
hewani
Adalah semacam hidup dikalangan binatang-binatang. Satu macam hidup
yang memiliki kesanggupan berkembangbiak, bergerak, berperasaan, dan satu
kehidupan yang lebih sempurna dari hidup tumbih.
c.
Hidup
sadar (Anima Intelectiva)
Adalah semacam hidup yang mendekati sempurna, berada di kalangan
manusia. Satu macam hidup selain dapat tumbuh, berkembangbiak, bergerak dan
berperasaan juga hidup yang berkesadaran dan berpengertian. Satu macam hidup
yang menghasilkan peradaban dan kebudayaan, yang sudah maju, berubah,
progresif, dinamis, dan lainnya.[2]
Manusia
dikatakan makhluk yang sadar, karena kita dapat mengetahui yang baik dan buruk,
cantik dan jelek, berguna atau bahaya, dan lain sebagainya. Dan dikatakan
berpengertian karena apa saja yang kita lihat, kita tahu banyak jumlahnya,
panjang lebarnya. Dengan kesadaran dan pengertian ini, manusia menjadi lebih
tahu tentang dirinya sendiri, yang akhirnya tahu akan Allah. Namun, kebanyakan
manusia yang disadari dan dimengerti adalah tentang benda semata, kehidupan
duniawi, dan kepuasan dunia. Tidak banyak yang berfikir tentang agamanya,
aqidah dan akhlanya. Padahal, kesadaran dan pengertian yang sempurna adalah
manusia yang sanggup mencari kebahagiaan di dunia dan akhirat.
2.
ALLAH ADA (WUJUD)
Adanya alam
semesta beserta isinya merupakan tanda bahwa Allah swt itu ada. Di dalam
Al-Qur’an wujud Allah diyakini kepada kita melalui fitrah iman dan makhluk
ciptaan-Nya, seperti dalam QS. Al-Baqarah:164 :
إِنَّ فِى خَلْقِ
ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱلْفُلْكِ
ٱلَّتِى تَجْرِى فِى ٱلْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ
مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٍ فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ
فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ ٱلرِّيَٰحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلْمُسَخَّرِ
بَيْنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“ sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih berganti
malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang Allah turunkan
dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati
(kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran
angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sesungguhnya itu adalah tanda-tanda
(keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
Sebelum Nabi
Isa dan Nabi Muhammad saw lahir, sudah banyak filosofer yang dengan akal
pikirannya sudah bisa membenarkan adanya Tuhan. Ada 4 macam dalil yang mereka gunakan :
a.
Preuve
Metaphisique (dalil akal semata)
Menurut
akal, alam yang maha luas tentu tidak tejadi dengan dengan sendirinya, pasti
ada yang menciptakan, yaitu Tuhan. Karena alam diciptakan, maka alam bersifat
tidak sempurna. Allah maha Sempurna, maha Ghaib dan tidak diciptakan oleh
siapapun atau apapun.
b.
Preuve
Phisique (dalil teori alam)
Dalil
ini pertama kali dipakai oleh Abu Huseil Al-Allaf (Ahli madzhab Mu’tazilah)
dengan teori atom. Dia mengemukakan bahwa alam berupa benda padat, cair atau
gas dapat dibagi-bagi sampai bagian terkecil yang dinamakan molekul. Molekul
satu dengan yang lainnya saling tarik-menarik, sehingga terjadilah benda
itu. Kekuatan tarik menarik timbul dari
perputaran atom-atom pada molekulnya. Penggerak utamanya tentulah Allah.
c.
Preuve
Teleogique (dalil dari susunan dan keindahan alam)
Dengan
teraturnya bumi mengitari matahari selama 365 hari, bulan mengitari bumi selama
30 hari, dan juga planeet serta bintang lainnya. Semuanya berjalan teratur
tanpa ada yang berantakan. Allah-lah yang maha Mengatur.
d.
Preuve
Morale ( dalil dari moral atau akhlak)
Tidak ada
keadilan dalam kehidupan manusia. Dilihat dari kebijaksanaan Allah dalam
mengatur alam, pasti tiap penganiayaan ada pengadiln tertinggi, yaitu Allah.[3]
Menurut
teori big bang, alam semesta telah
terbentuk melalui ledakan tinggi tunggal bervolume nol. Teori ini menunjukkan
bahwa semua benda di alam semesta pada awalnya adalah ada, kemudian
terpisah-pisah. Fakta ini merupakan petunjuk nyata bahwa alam semesta telah
diciptakan dari ketiadaan, dengan kata lain dicipyakan ole Allah yang Maha Menciptakan.
C.
Allah kita Maha Ghaib
Allah ‘Azza
wa Jalla adalah Dzat Yang MAHA GHAIB, Dialah Pencipta para MAKHLUK GHAIB yang
tidak dapat dilihat oleh mata kepala manusia, kecuali dengan seizin-Nya, namun
kita mengenal mereka sebagai MALAIKAT, IBLIS, SYETAN, JIN dan lain sebagainya.
DIA juga yang menciptakan ALAM-ALAM GHAIB yang hingga
saat ini juga tidak dapat kita lihat dengan mata kepala kita (invisible),
kecuali atas izin-Nya kepada manusia-manusia tertentu seperti para Nabi. Suatu
alam yang tidak diketahui bagaimana bentuknya, di mana letaknya dan siapa
sajakah penghuninya?
Itulah alam-alam ghaib yang mungkin pernah kita dengar namanya seperti di antaranya; Alam Qubur, Barzah, Malakut, Zabarut, Sidhratal Muntaha, ‘Arsy, Surga maupun Neraka dan lain sebagainya.
Itulah alam-alam ghaib yang mungkin pernah kita dengar namanya seperti di antaranya; Alam Qubur, Barzah, Malakut, Zabarut, Sidhratal Muntaha, ‘Arsy, Surga maupun Neraka dan lain sebagainya.
Bagaimana mungkin
kita yang hanya untuk melihat wujud asli dari makhluk-makhluk ghaib ciptaan
Allah SWT di atas saja sudah tidak mampu,apalagi ingin melihat DIA Sang Maha
Ghaib, Tuhan pencipta seluruh makhluk ghaib tsb?
Kendati demikian, jangan berputus asa. Sebab seperti sudah dijanjikan-Nya
kepada setiap manusia yang rindu untuk melihat Allah, dan diajarkan pula oleh
Rasulullah saw, maka In Sha Allah, di akhirat kelak kita berkesempatan untuk
melihat Allah sejelas kita melihat bulan pada malam bulan purnama!
إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ
"Pada
hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri, karena mereka melihat kepada Rabb
mereka." (Al-Qiyamah[75]: 22-23)
Di dalam
hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu bahwa manusia bertanya:
"Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat?" Beliau menjawab: "Apakah kalian berdesak-desakan ketika melihat bulan pada malam purnama di saat tidak ada awan di bawahnya?" Mereka menjawab: "Tidak, ya Rasulullah!" Beliau berkata: "Apakah kalian pun berdesak-desakan ketika melihat matahari di saat tidak ada awan?" Mereka menjawab: "Tidak." Beliau berkata: "Maka sesungguhnya kalian akan melihat-Nya seperti itu!" [HR. Bukhari No. 764].
"Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat?" Beliau menjawab: "Apakah kalian berdesak-desakan ketika melihat bulan pada malam purnama di saat tidak ada awan di bawahnya?" Mereka menjawab: "Tidak, ya Rasulullah!" Beliau berkata: "Apakah kalian pun berdesak-desakan ketika melihat matahari di saat tidak ada awan?" Mereka menjawab: "Tidak." Beliau berkata: "Maka sesungguhnya kalian akan melihat-Nya seperti itu!" [HR. Bukhari No. 764].
Banyak dari kita yang mungkin tidak sempat berfikir bahwa sesungguhnya
Allah telah mengajari kita untuk mengerti satu hal yang pasti, yakni bahwa
selama masih hidup di dunia fana ini, mustahil manusia dapat melihat wujud
Allah. Al-Qur'an banyak sekali mengisyaratkan bahwa "pertemuan manusia
dengan Allah" hanya akan terjadi kelak di alam akhirat saja.
D. Pembagian Tauhid
Esensi iman
kepada Allah SWT adalah Tauhid, yaitu mengesakan-NYA, baik dalam zat,
asma’was-shiffat, maupun af’al (perbuatan)-NYA. Tauhid dari segi bahasa adalah
bentuk ketiga (mashdar) dari kata dasar wahhada yaitu, apabila sesuatu
dijadikan menjadi satu. Sedangkan dari segi syar’i, tauhid adalah Mengesakan
Allah SWT dengan ibadah dan meninggalkan
ibadah selain kepada-NYA.
Secara sederhana Tauhid dapat dibagi dalam tiga tingkatan atau
tahapan yaitu:
1.
Tauhid
Rububiyah (mengimani Allah SWT sebagai satu-satunya Rabb),
2.
Tauhid
Mulkiyah (mengimani Allah SWT sebagai satu-satunya Malik),
3.
Tauhid
Ilahiyah (mengimani Allah SWT sebagai satu-satunya Ilah).
Penyederhanaan ke dalam tiga tingkatan diatas didasarkan
kepada firman Allah SWT :
ٱلْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
“Segala puji bagi Allah,
Tuhan semesta alam.” (Al-Fatihah 1:2)
مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ
“Yang menguasai hari pembalasan.”
(Al-Fatihah 1:4)
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada Engkaulah kami
menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (Al-Fatihah 1:5)
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ
“Katakanlah: Aku berlindung kepada
Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.” (An-Naas 114:1)
مَلِكِ ٱلنَّاسِ
“Raja manusia.” (An-Naas 114:2)
إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ
“Sembahan manusia.” (An-Naas 114:3)
خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا
وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ ٱلْأَنْعَٰمِ ثَمَٰنِيَةَ أَزْوَٰجٍ ۚ يَخْلُقُكُمْ فِى
بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ خَلْقًا مِّنۢ بَعْدِ خَلْقٍ فِى ظُلُمَٰتٍ ثَلَٰثٍ ۚ
ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ ٱلْمُلْكُ ۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ
فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ
“Yang (berbuat) demikian itu adalah
Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) selain Dia. Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (Az:Zumar 39:6)
1.
Tauhid Rububiyah
Tauhid
rububiyah ialah mentauhidkan dan mengesakan Allah SWT dengan segala
perbuatan-NYA, seperti mencipta, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, dan
mengatur alam semesta. Maka tidak ada Rabb selain Dia, Rabb alam semesta.
Pengertian
bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Zat
yang mencipta, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur alam
semesta, banyak terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an, antara lain dalam
ayat-ayat berikut ini:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ
وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai manusia,
sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar
kamu bertakwa.” (Al-Baqarah 2:21)
ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ فِرَٰشًا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءً
وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزْقًا
لَّكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا۟ لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dialah yang
menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia
menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu
segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan
sekutu bagi Allah , padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah 2:22)
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ
مِنْ خَٰلِقٍ غَيْرُ ٱللَّهِ يَرْزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ ۚ لَآ
إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ
Hai manusia,
ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipa selain Allah yang dapat
memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan (yang
berhak disembah) selain Dia, maka mengapakah kamu berpaling (dari ketahuidan)?”
(Fa-Thir 35:3)
قُل لِّمَنِ ٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهَآ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Katakanlah:
kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui.”
(Al-Mukminun 23:84)
سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
“Mereka akan
menjawab: ‘kepunyaan Allah’, katakanlah: maka apakah kamu tidak ingat?”
(Al-Mukminun 23:85).
Semua ayat yang
berbicara tentang perbuatan Allah, maka sesungguhnya itu dalam tauhid
Rububiyah.
2.
Tauhid Mulkiyah
Kata Malik yang
berarti raja dan Malik yang berarti memiliki berakar dari akar kata yang sama
yaitu ma-la-ka. Keduanya memang mempunyai relevansi makna yang kuat.
Allah SWT sebagai Rabb yang memiliki alam semesta (al-‘alamin) adalah Raja dari
alam semeta tersebut, Dia bisa dan bebas melakukan apa saja yang Dia kehendaki
terhadap alam semesta tersebut. Dalam hal ini Allah SWT adalah Malik (Raja) dan
alam semesta adalah mamluk (yang dimiliki atau hamba). Kita banyak menemukan
ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah SWT adalah Pemilik dan Raja
langit dan bumi dan seluruh isinya, antara lain:
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ
وَٱلْأَرْضِ ۗ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِىٍّ وَلَا نَصِيرٍ
“Tiadakah kamu
mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada
bagimu selain Allah seorang pelindung dan seorang penolong.” (Al-Baqarah 2:107)
لِلَّهِ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ ۚ وَهُوَ
عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌۢ
“Kepunyaan
Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada didalamnya, dan Dia
Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Al-Maidah 5:120)
Bila kita
mengimani bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Raja yang menguasai alam semesta
(bumi, langit, dan seluruh isinya) maka kita minimal harus mengakui bahwa Allah
SWT adalah Pemimpin (Wali), Penguasa yang menentukan (Hakim) dan
yang menjadi Tujuan (Ghayah). Hal itu logis sebagai konsekuensi dari
pengakuan kita bahwa Allah SWT adalah Raja. Bukanlah Raja kalau tidak memimpin,
bukanlah Pemimpin kalau tidak punya wewenang menentukan sesuatu.
Bila Allah SWT
adalah Wali dan Hakim, maka kita akan melakukan apa saja yang
diridhai-Nya, atau dengan kata lain apa saja yang kita lakukan adalah dalam
rangka mencari ridha Allah. Allah-lah yang menjadi Ghayah (tujuan) kita.
Kita akan mengucapkan sebuah pernyataan:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ
ٱلْعَٰلَمِينَ
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku,
hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta Alam.” (Al-An’am
6:162).
Ringkasnya
tauhid mulkiyah adalah mengimani Allah mengimani Allah SWT sebagai satu-satunya
Malik yang mencakup pengertian sebagai Wali, Hakim, dan Ghayah.
3.
Tauhid Ilahiyah
Kata Ilah
berakar dari kata a-la-ha (alif-lam-ha) yang mempunyai arti
antara lain tenteram, tenang, lindungan, cinta dan sembah (‘abada).
Semua kata-kata ini relevan dengan sifat-sifat dan kekhususan zat Allah SWT
seperti dinyatakan oleh Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an:
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ
أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً ۚ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا
بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ
“Orang-orang yang beriman dan hati
mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan
mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’du 13:28).
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا
يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ
وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ
لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
“Adapun orang-orang yang beriman
amat sangat cintanya kepada Allah.” (Al-Baqarah 2:165).
Diantara makna Illah di atas maka yang paling asasi adalah
makna ‘abada (‘ain-ba-dal) yang mempunyai beberapa arti, antara
lain: hamba sahaya (‘abdun), patuh dan tunduk (‘ibadah), yang
mulia dan yang agung (al-ma’bad), selalu mengikutinya (‘abada bih).
Jadi Tauhid Ilahiyah adalah mengimani Allah SWT sebagai
satu-satunya Al-Ma’Bud (yang disembah). Dalam hal ini Allah SWT berfirman:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ
الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Sesungguhnya
Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku
(beribadalah) kepadaku dan dirikanlah shalat untuk mengingatku.” (Thaha 20:14)
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Tuhan adalah
seorang pencipta alam semesta dan segala isinya yang ada. Tidak bisa dipungkiri
bahwa kita wajib percaya adanya tuhan. Sebagai umat islam kita pastinya
mempercayai bahwa tiada tuhan selain Allah. Begitu banyak ayat-ayat qauliah
yang telah menjelaskan bahwa Allah merupakan Dzat yang Kekal, Ghaib dan tiada
yang dapat menandinginya. Dalam proses memahami dan mempercayai keberadaan
Allah, maka kita perlu mempelajari Ilmu Ketauhidan.
Ilmu Tauhid
ialah suatu
ilmu yang mempelajari atau membahas tentang segala sesuatu kepercayaan atau
keimanan yang diambil dari dalil-dalil keyakinan dan hukum dalam Islam termasuk
hukum tentang mempercayakan bahwa Allah itu esa. Tujuan mempelajari
ilmu tauhid ialah untuk mengenal Allah lebih dekat dan RasulNya dengan
dalil-dalil yang pasti kebenarannya.
Ilmu tauhid
sendiri dibagi dalam 3 pembagian sederhana, yaitu : Tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan
dan mengesakan Allah SWT dengan segala perbuatan-NYA, Tauhid Mulkiyah adalah
mengimani Allah mengimani Allah SWT sebagai satu-satunya Malik(Raja), Tauhid
Ilahiyah adalah mengimani Allah SWT sebagai satu-satunya Al-Ma’Bud (yang
disembah).
B.
Kritik dan Saran
1. Kritik dan saran yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi perbaikan
dan kesempurnaan Makalah ini.
2. Bagi para pembaca dan rekan-rekan yang lainnya, jika ingin menambah wawasan
dan ingin mengetahui lebih jauh, maka penulis mengharapkan dengan rendah hati
agar lebih membaca buku-buku lainnya yang berkaitan dengan judul “Tuhid
Kepada Allah”
3. Jadikanlah Makalah ini sebagai sarana yang dapat mendorong para mahasiswa/i
berfikir secara mendalam dan dorongan untuk lebih mempelajari Ilmu Tuhid.
DAFTAR
PUSTAKA
0 komentar:
Posting Komentar