Makalah Tauhid



MAKALAH
JALAN MENUJU PENGETAHUAN TENTANG ALLAH : AL – QUR’AN
Disusun Untuk Memenuhi
Tugas Mata Kuliah: Tauhid

Dosen Pengampu: Dr. Ustadi Hamsah, S.Ag., M.Ag.











Disusun Oleh:
Ahmad Albar Fuad (16670018)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS ILMU SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2016


KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb
Puji serta syukur marilah panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan berkah, nikmat dan rahmat serta karunia-Nya kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda besar kita Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukan kepada kita jalan yang lurus, sehingga kita dapat membedakan mana yang haram dan mana yang di halalkan oleh Allah SWT.
Alhamdulillah, berkat rahmat dan karunia Allah SWT, sehingga makalah ini dapat kami selesaikan dengan judul “Jalan Menuju Pengetahuan Tentang Allah : Al-Qur’an”. Maka dalam kesempatan ini kami menghaturkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:
1.  Prof. Drs. H. Akhmad Minhaji, MA,. Ph.D. selaku Rektor UIN Sunan
Kalijaga.
2.  Dr. Murtono, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sains dan Teknologi.
3.  Bapak Karmanto, S.Si., M.Sc.selaku Kaprodi Pendidikan kimia.
4.  Dr. Ustadi Hamsah, S.Ag., M.Ag. selaku dosen mata kuliah Tauhid.

Tak lupa kami ucapkan mohon maaf karena kami pun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu kami mengharapkan  kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan pembuatan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya. Aaamiin.
Wassalamualaikum wr.wb
Yogyakarta, 15 Oktober 2016

                                                                                             Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI..................................................................................................... iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang................................................................................... 1
B.            Rumusan Masalah.............................................................................. 1
C.           Tujuan Penulisan................................................................................ 1
BAB II
PEMBAHASAN
A.           Pengertian Tauhid.............................................................................. 2
B.            Tuhan itu Ada dan Hidup.................................................................. 3
C.           Allah Kita Maha Ghaib...................................................................... 6
D.           Tauhid Kepada Allah......................................................................... 7
BAB III
PENUTUP
A.           Kesimpulan.......................................................................................... 13
B.            Kritik dan Saran................................................................................. 13
Daftar Pustaka.................................................................................................. iv




BAB I
PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG

Manusia berdasarkan fitrah dan akal sehat pasti mengakui bahwa Allah itu esa, tidak bersekutu istilah ini yang disebut tauhid. Tauhid adalah kunci dari makna hidup, bahkan manusia dan jin diciptakan hanya untuk bertauhid kepada Allah semata.
Ilmu tauhid adalah ilmu yang paling penting bagi tiap-tiap muslim karena bahasan ilmu tauhid ini menyangkut akidah islam. Sedangkan akidah islam merupakan pondasi bagi keberagaman seseorang dan benteng yang kokoh untuk memelihara akidah muslim dari setiap ancaman keraguan dan kesesatan. Tanpa mengetahui ilmu tauhid kita tidak akan mengetahui tujuan hidup yang sebenarnya.
Dalam al-qur’an pun juga sangat banyak ayat yang membahas ketauhidan. Makalah ini akan menguraikan beberapa poin tauhid yang berhubungan dengan al-qur’an, seperti pengertian tauhid, wujud Allah, Allah itu ghaib, dan pembagian Tauhidullah.


B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian Tauhid ?
2.      Apakah Tuhan ada dan Hidup ?
3.      Apakah Tuhan Maha Ghaib ?
4.      Pembagian Tauhid ?

C.     TUJUAN PENULISAN
1.      Memahami pengertian Tauhidullah.
2.      Memahami apakah Tuhan itu dzat yang ada dan hidup
3.      Memahami apakah tuhan maha ghaib
4.      Mengetahui pembagian tauhid




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Tauhid
Pengertian Tauhid dalam bahasa arab merupakan mashdar (kata suatu benda dari sebuah kata kerja) berasal dari kata wahhada. Apabila yang dimaksud wahhada syai’a berarti menjadikan sesuatu itu menjadi satu. Sedangkan menurut ilmu syariat mempunyai arti mengesakan terhadap Allah dalam sesuatu hal yang merupakan kekhususan bagi-Nya, yaitu yang berupa Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma’ Wa Shifat ( Al-Qaulul Mufiiid Syarh Kitabi At-Tauhid).
Kata tauhid itu sendiri merupakan sebuah kata yang terdapat di dalam beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana di dalam hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu, “Kamu akan datangi suatu kaum ahli kitab, maka jadikanlah materi dalam dakwah yang akan kamu sampaikan pertama kali yaitu agar mereka mentauhidkan terhadap Allah”.
Begitu pula dalam perkataan para sahabat Nabi, “Rasulullah membaca tahlil dengan tauhid”. Dalam pengucapan beliau labbaika Allahumma labbaika, labbaika laa syariika laka labbaika, ucapan talbiyah yang dilantunkan saat memulai ibadah haji. Dengan demikian kata-kata tauhid adalah kata syar’i dan juga terdapat di dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah li Syaikh Shalih Alu Syaikh).
Tauhid secara bahasa artinya keesaan, mengesakan Tuhan. Mengesakan Tuhan berarti meyakini bahwa Tuhan itu Maha esa. Tuhan Maha Esa itu ialah Allah SWT. Dan ilmu tauhid itu ialah suatu ilmu yang mempelajari atau membahas tentang segala sesuatu kepercayaan atau keimanan yang diambil dari dalil-dalil keyakinan dan hukum dalam Islam termasuk hukum tentang mempercayakan bahwa Allah itu esa. Adapun tujuan mempelajari ilmu tauhid ialah untuk mengenal Allah lebih dekat dan RasulNya dengan dalil-dalil yang pasti kebenarannya.



B.     Tuhan itu Ada dan Hidup
1.      TUHAN HIDUP
Allah memiliki nama dan sifat yang sempurna. Allah itu Al Hayyu ( Maha Hidup), kekal abadi sehingga jika seseorang bertawakkal kepadaNya maka dia bertawakkal kepada Dzat yang maha Sempurna. Hidup Allah adalah hidup yang sempurna, yang berakhi tidak dengan mati, hidup yang bukan dengan alat seperti jantung, paru-paru, bukan karena khasiat makanan, juga hidup bukan karena sinar dan cahaya. [1]  Firman Allah :
لَا تَجْـَٔرُوا۟ ٱلْيَوْمَ ۖ إِنَّكُم مِّنَّا لَا تُنصَرُونَ
“ Dia (Allah) hidup, tidak ada Tuhan selain Dia, maka hadapkanlah segala Do'a kepada-Nya dan beribadatlah semata-mata untuk dan karena Dia.” (QS. Al Mukmin:65)
وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ
“Sesungguhnya Dia Allah-lah yang mematikan dan Dialah yang menghidupkan.” (QS. An- Najm:44)
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ
“Dia Allah-lah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk:2)
Dari beberapa ayat tersebut menunjukkan bahwa Allah itu hidup dan Ada, karena setiap yang hidup pasti ada. Hidupnya Allah tentu berbeda dengan hidup makhluk-Nya, karena Allah yang menciptakan. Allah-lah Dzat yang memberi hidup  dan menghidupkan, sedangkan adanya makhluk yang hidup karena dihidupkan. 

Ada 3 macam hidup atau kehidupan di alam semesta, yaitu :
a.     Hidup tumbuh (Anima Vegetativa), atau hayat nabati
Adalah semacam hidup di kalangan tumbuh-tumbuhan. Hidup yang sanggup tumbuh, makin tinggi, dan makin besar. Hidup yang menghasilkan daun, buah, tetapi tidak sanggup merasakan dan bergerak.
b.     Hidup rasa (Anima Sensitiva), atau  hayat hewani
Adalah semacam hidup dikalangan binatang-binatang. Satu macam hidup yang memiliki kesanggupan berkembangbiak, bergerak, berperasaan, dan satu kehidupan yang lebih sempurna dari hidup tumbih.
c.     Hidup sadar (Anima Intelectiva)
Adalah semacam hidup yang mendekati sempurna, berada di kalangan manusia. Satu macam hidup selain dapat tumbuh, berkembangbiak, bergerak dan berperasaan juga hidup yang berkesadaran dan berpengertian. Satu macam hidup yang menghasilkan peradaban dan kebudayaan, yang sudah maju, berubah, progresif, dinamis, dan lainnya.[2]
Manusia dikatakan makhluk yang sadar, karena kita dapat mengetahui yang baik dan buruk, cantik dan jelek, berguna atau bahaya, dan lain sebagainya. Dan dikatakan berpengertian karena apa saja yang kita lihat, kita tahu banyak jumlahnya, panjang lebarnya. Dengan kesadaran dan pengertian ini, manusia menjadi lebih tahu tentang dirinya sendiri, yang akhirnya tahu akan Allah. Namun, kebanyakan manusia yang disadari dan dimengerti adalah tentang benda semata, kehidupan duniawi, dan kepuasan dunia. Tidak banyak yang berfikir tentang agamanya, aqidah dan akhlanya. Padahal, kesadaran dan pengertian yang sempurna adalah manusia yang sanggup mencari kebahagiaan di dunia dan akhirat.



2.      ALLAH ADA (WUJUD)
Adanya alam semesta beserta isinya merupakan tanda bahwa Allah swt itu ada. Di dalam Al-Qur’an wujud Allah diyakini kepada kita melalui fitrah iman dan makhluk ciptaan-Nya, seperti dalam QS. Al-Baqarah:164 :
إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱلْفُلْكِ ٱلَّتِى تَجْرِى فِى ٱلْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٍ فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ ٱلرِّيَٰحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلْمُسَخَّرِ بَيْنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“ sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih berganti malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan  bumi, sesungguhnya itu adalah tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
Sebelum Nabi Isa dan Nabi Muhammad saw lahir, sudah banyak filosofer yang dengan akal pikirannya sudah bisa membenarkan adanya Tuhan. Ada  4 macam dalil yang mereka gunakan :
a.     Preuve Metaphisique (dalil akal semata)
Menurut akal, alam yang maha luas tentu tidak tejadi dengan dengan sendirinya, pasti ada yang menciptakan, yaitu Tuhan. Karena alam diciptakan, maka alam bersifat tidak sempurna. Allah maha Sempurna, maha Ghaib dan tidak diciptakan oleh siapapun atau apapun.
b.    Preuve Phisique (dalil teori alam)
Dalil ini pertama kali dipakai oleh Abu Huseil Al-Allaf (Ahli madzhab Mu’tazilah) dengan teori atom. Dia mengemukakan bahwa alam berupa benda padat, cair atau gas dapat dibagi-bagi sampai bagian terkecil yang dinamakan molekul. Molekul satu dengan yang lainnya saling tarik-menarik, sehingga terjadilah benda itu.  Kekuatan tarik menarik timbul dari perputaran atom-atom pada molekulnya. Penggerak utamanya tentulah Allah.

c.     Preuve Teleogique (dalil dari susunan dan keindahan alam)
Dengan teraturnya bumi mengitari matahari selama 365 hari, bulan mengitari bumi selama 30 hari, dan juga planeet serta bintang lainnya. Semuanya berjalan teratur tanpa ada yang berantakan. Allah-lah yang maha Mengatur.
d.    Preuve Morale ( dalil dari moral atau akhlak)
Tidak ada keadilan dalam kehidupan manusia. Dilihat dari kebijaksanaan Allah dalam mengatur alam, pasti tiap penganiayaan ada pengadiln tertinggi, yaitu Allah.[3]
Menurut teori  big bang, alam semesta telah terbentuk melalui ledakan tinggi tunggal bervolume nol. Teori ini menunjukkan bahwa semua benda di alam semesta pada awalnya adalah ada, kemudian terpisah-pisah. Fakta ini merupakan petunjuk nyata bahwa alam semesta telah diciptakan dari ketiadaan, dengan kata lain dicipyakan ole  Allah yang Maha Menciptakan.
C.    Allah kita Maha Ghaib
Allah ‘Azza wa Jalla adalah Dzat Yang MAHA GHAIB, Dialah Pencipta para MAKHLUK GHAIB yang tidak dapat dilihat oleh mata kepala manusia, kecuali dengan seizin-Nya, namun kita mengenal mereka sebagai MALAIKAT, IBLIS, SYETAN, JIN dan lain sebagainya.
DIA juga yang menciptakan ALAM-ALAM GHAIB yang hingga saat ini juga tidak dapat kita lihat dengan mata kepala kita (invisible), kecuali atas izin-Nya kepada manusia-manusia tertentu seperti para Nabi. Suatu alam yang tidak diketahui bagaimana bentuknya, di mana letaknya dan siapa sajakah penghuninya?
Itulah alam-alam ghaib yang mungkin pernah kita dengar namanya seperti di antaranya; Alam Qubur, Barzah, Malakut, Zabarut, Sidhratal Muntaha, ‘Arsy, Surga maupun Neraka dan lain sebagainya.
Bagaimana mungkin kita yang hanya untuk melihat wujud asli dari makhluk-makhluk ghaib ciptaan Allah SWT di atas saja sudah tidak mampu,apalagi ingin melihat DIA Sang Maha Ghaib, Tuhan pencipta seluruh makhluk ghaib tsb?


Kendati demikian, jangan berputus asa. Sebab seperti sudah dijanjikan-Nya kepada setiap manusia yang rindu untuk melihat Allah, dan diajarkan pula oleh Rasulullah saw, maka In Sha Allah, di akhirat kelak kita berkesempatan untuk melihat Allah sejelas kita melihat bulan pada malam bulan purnama!
إِلَى رَبِّهَا نَاظِرَةٌ وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ
"Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri, karena mereka melihat kepada Rabb mereka." (Al-Qiyamah[75]: 22-23)
Di dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu bahwa manusia bertanya:
"Wahai Rasulullah, apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat?" Beliau menjawab: "Apakah kalian berdesak-desakan ketika melihat bulan pada malam purnama di saat tidak ada awan di bawahnya?" Mereka menjawab: "Tidak, ya Rasulullah!" Beliau berkata: "Apakah kalian pun berdesak-desakan ketika melihat matahari di saat tidak ada awan?" Mereka menjawab: "Tidak." Beliau berkata: "Maka sesungguhnya kalian akan melihat-Nya seperti itu!" [HR. Bukhari No. 764]. 
Banyak dari kita yang mungkin tidak sempat berfikir bahwa sesungguhnya Allah telah mengajari kita untuk mengerti satu hal yang pasti, yakni bahwa selama masih hidup di dunia fana ini, mustahil manusia dapat melihat wujud Allah. Al-Qur'an banyak sekali mengisyaratkan bahwa "pertemuan manusia dengan Allah" hanya akan terjadi kelak di alam akhirat saja.
D.    Pembagian Tauhid

Esensi iman kepada Allah SWT adalah Tauhid, yaitu mengesakan-NYA, baik dalam zat, asma’was-shiffat, maupun af’al (perbuatan)-NYA. Tauhid dari segi bahasa adalah bentuk ketiga (mashdar) dari kata dasar wahhada yaitu, apabila sesuatu dijadikan menjadi satu. Sedangkan dari segi syar’i, tauhid adalah Mengesakan Allah SWT  dengan ibadah dan meninggalkan ibadah selain kepada-NYA.
Secara sederhana Tauhid dapat dibagi dalam tiga tingkatan atau tahapan yaitu:
1.      Tauhid Rububiyah (mengimani Allah SWT sebagai satu-satunya Rabb),
2.      Tauhid Mulkiyah (mengimani Allah SWT sebagai satu-satunya Malik),
3.      Tauhid Ilahiyah (mengimani Allah SWT sebagai satu-satunya Ilah).
Penyederhanaan ke dalam tiga tingkatan diatas didasarkan kepada  firman Allah SWT :
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
 “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-Fatihah 1:2)
مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ
“Yang menguasai hari pembalasan.” (Al-Fatihah 1:4)
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (Al-Fatihah 1:5)
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ
“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.” (An-Naas 114:1)
مَلِكِ ٱلنَّاسِ
“Raja manusia.” (An-Naas 114:2)
 إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ
“Sembahan manusia.” (An-Naas 114:3)
خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ ٱلْأَنْعَٰمِ ثَمَٰنِيَةَ أَزْوَٰجٍ ۚ يَخْلُقُكُمْ فِى بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ خَلْقًا مِّنۢ بَعْدِ خَلْقٍ فِى ظُلُمَٰتٍ ثَلَٰثٍ ۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ ٱلْمُلْكُ ۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ
“Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (Az:Zumar 39:6)







1.    Tauhid Rububiyah
Tauhid rububiyah ialah mentauhidkan dan mengesakan Allah SWT dengan segala perbuatan-NYA, seperti mencipta, memberi rizki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur alam semesta. Maka tidak ada Rabb selain Dia, Rabb alam semesta.
Pengertian bahwa Allah  SWT adalah satu-satunya Zat yang mencipta, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur alam semesta, banyak terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an, antara lain dalam ayat-ayat berikut  ini:
 يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah 2:21)
 ٱلَّذِى جَعَلَ لَكُمُ ٱلْأَرْضَ فِرَٰشًا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءً وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً فَأَخْرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزْقًا لَّكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا۟ لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu bagi Allah , padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah 2:22)
 يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ ۚ هَلْ مِنْ خَٰلِقٍ غَيْرُ ٱللَّهِ يَرْزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ ۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ
Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipa selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, maka mengapakah kamu berpaling (dari ketahuidan)?” (Fa-Thir 35:3)  
 قُل لِّمَنِ ٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهَآ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Katakanlah: kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui.” (Al-Mukminun 23:84)
 سَيَقُولُونَ لِلَّهِ ۚ قُلْ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
“Mereka akan menjawab: ‘kepunyaan Allah’, katakanlah: maka apakah kamu tidak ingat?” (Al-Mukminun 23:85).
Semua ayat yang berbicara tentang perbuatan Allah, maka sesungguhnya itu dalam tauhid Rububiyah.
2.    Tauhid Mulkiyah
Kata Malik yang berarti raja dan Malik yang berarti memiliki berakar dari akar kata yang sama yaitu ma-la-ka. Keduanya memang mempunyai relevansi makna yang kuat. Allah SWT sebagai Rabb yang memiliki alam semesta (al-‘alamin) adalah Raja dari alam semeta tersebut, Dia bisa dan bebas melakukan apa saja yang Dia kehendaki terhadap alam semesta tersebut. Dalam hal ini Allah SWT adalah Malik (Raja) dan alam semesta adalah mamluk (yang dimiliki atau hamba). Kita banyak menemukan ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah SWT adalah Pemilik dan Raja langit dan bumi dan seluruh isinya, antara lain:
 أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۗ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِىٍّ وَلَا نَصِيرٍ
“Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung dan seorang penolong.” (Al-Baqarah 2:107)
 لِلَّهِ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌۢ
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada didalamnya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Al-Maidah 5:120)
Bila kita mengimani bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Raja yang menguasai alam semesta (bumi, langit, dan seluruh isinya) maka kita minimal harus mengakui bahwa Allah SWT adalah Pemimpin (Wali), Penguasa yang menentukan (Hakim) dan yang menjadi Tujuan (Ghayah). Hal itu logis sebagai konsekuensi dari pengakuan kita bahwa Allah SWT adalah Raja. Bukanlah Raja kalau tidak memimpin, bukanlah Pemimpin kalau tidak punya wewenang menentukan sesuatu.
Bila Allah SWT adalah Wali dan Hakim, maka kita akan melakukan apa saja yang diridhai-Nya, atau dengan kata lain apa saja yang kita lakukan adalah dalam rangka mencari ridha Allah. Allah-lah yang menjadi Ghayah (tujuan) kita. Kita akan mengucapkan sebuah pernyataan:



 قُلْ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحْيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta Alam.” (Al-An’am 6:162).
Ringkasnya tauhid mulkiyah adalah mengimani Allah mengimani Allah SWT sebagai satu-satunya Malik yang mencakup pengertian sebagai Wali, Hakim, dan Ghayah.
3.    Tauhid Ilahiyah
Kata Ilah berakar dari kata a-la-ha (alif-lam-ha) yang mempunyai arti antara lain tenteram, tenang, lindungan, cinta dan sembah (‘abada). Semua kata-kata ini relevan dengan sifat-sifat dan kekhususan zat Allah SWT seperti dinyatakan oleh Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an:
 وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً ۚ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’du 13:28).
 وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (Al-Baqarah 2:165).
Diantara makna Illah di atas maka yang paling asasi adalah makna ‘abada (‘ain-ba-dal) yang mempunyai beberapa arti, antara lain: hamba sahaya (‘abdun), patuh dan tunduk (‘ibadah), yang mulia dan yang agung (al-ma’bad), selalu mengikutinya (‘abada bih).




Jadi Tauhid Ilahiyah adalah mengimani Allah SWT sebagai satu-satunya Al-Ma’Bud (yang disembah). Dalam hal ini Allah SWT berfirman:
 إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku (beribadalah) kepadaku dan dirikanlah shalat untuk mengingatku.” (Thaha 20:14)
 

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Tuhan adalah seorang pencipta alam semesta dan segala isinya yang ada. Tidak bisa dipungkiri bahwa kita wajib percaya adanya tuhan. Sebagai umat islam kita pastinya mempercayai bahwa tiada tuhan selain Allah. Begitu banyak ayat-ayat qauliah yang telah menjelaskan bahwa Allah merupakan Dzat yang Kekal, Ghaib dan tiada yang dapat menandinginya. Dalam proses memahami dan mempercayai keberadaan Allah, maka kita perlu mempelajari Ilmu Ketauhidan.
Ilmu Tauhid ialah suatu ilmu yang mempelajari atau membahas tentang segala sesuatu kepercayaan atau keimanan yang diambil dari dalil-dalil keyakinan dan hukum dalam Islam termasuk hukum tentang mempercayakan bahwa Allah itu esa. Tujuan mempelajari ilmu tauhid ialah untuk mengenal Allah lebih dekat dan RasulNya dengan dalil-dalil yang pasti kebenarannya.
Ilmu tauhid sendiri dibagi dalam 3 pembagian sederhana, yaitu : Tauhid Rububiyah adalah mentauhidkan dan mengesakan Allah SWT dengan segala perbuatan-NYA, Tauhid Mulkiyah adalah mengimani Allah mengimani Allah SWT sebagai satu-satunya Malik(Raja), Tauhid Ilahiyah adalah mengimani Allah SWT sebagai satu-satunya Al-Ma’Bud (yang disembah). 
B.     Kritik dan Saran

1.      Kritik dan saran yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan Makalah ini.
2.      Bagi para pembaca dan rekan-rekan yang lainnya, jika ingin menambah wawasan dan ingin mengetahui lebih jauh, maka penulis mengharapkan dengan rendah hati agar lebih membaca buku-buku lainnya yang berkaitan dengan judul “Tuhid Kepada Allah
3.      Jadikanlah Makalah ini sebagai sarana yang dapat mendorong para mahasiswa/i berfikir secara mendalam dan dorongan untuk lebih mempelajari Ilmu Tuhid.


DAFTAR PUSTAKA



[1] Mengenal Tuhan, hlm. 60
[2] Mengenal tuhan, hlm.58-59
[3] Mengenal tuhan, hlm.15-16

0 komentar:

Posting Komentar